Wednesday, October 19, 2011

Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak ruminansia

Pemanfaatan Limbah Pertanian 
Limbah adalah sisa atau hasil ikutan dari produk utama limbah. Limbah pertanian adalah bagian tanaman pertanian diatas tanah atau bagian pucuk, batang yang tersisa setelah dipanen atau diambil hasil utamanya (Sutrisno,2002) dalam Sitorus (2002) dan merupakan pakan alternatif yang digunakan sebagai pakan, khususnya ruminansia (Widiyanto, 1993) dalam Sitorus (2002). Beberapa limbah pertanian yang potensial dan belum banyak dimanfaatkan secara optimal berturut-turut antara lain jerami padi, jerami jagung, pucuk tebu, jerami kedele, jerami ketela rambat dan jerami kacang tanah (Soejono et al., 1988; Van Bruchem dan Sutanto, 1988; Widiyanto, 1993; Pangestu,1995; Widyati et al., 1997) dalam Sitorus (2002)

Bahan baku pakan asal pertanian secara umum dapat dikelompokkan menjadi: Limbah pertanian dan limbah agroindustri. Bahan baku pakan yang termasuk limbah pertanian dan agroindustri disajikan pada Table 1 (Agustini, 2010).

Tabel 1. Bahan baku pakan asal limbah pertanian dan agroindustri

No
Limbah Pertanian
Limbah Agroindustri
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Jerami padi
Jerami jagung
Tumpi jagung
Jerami kedelai
Jerami kacang tanah
Jerami kacang hijau
Jerami komak
Kulit kacang tanah

Dedak padi
Ampas tahu
Ampas pabrik roti
Bungkil kelapa
Kedelai afkir
            Sumber :  Agustini (2010)

Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan ternak ruminansia pada peternak masih rendah karena  rendahnya tingkat pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan disebabkan peternak  membakar limbah (jerami padi/jagung/ ubi jalar) setelah panen dimana limbah ini berfungsi sebagai pupuk organik di samping itu adanya anggapan dari peternak  bahwa hijauan pakan tersedia dalam jumlah yang mencukupi dilahan pekarangan, sawah dan kebun untuk kebutuhan ternak. Penelitian (Syamsu, 2007) dalam Liana & Febrina (2011) menunjukkan hanya 37.88% peternak di Sulawesi Selatan yang menggunakan limbah pertanian sebagai pakan.
 
Beberapa faktor yang menyebabkan peternak tidak menggunakan limbah tanaman pangan sebagai pakan adalah Liana & Febrina (2010) : a) umumnya petani membakar limbah tanaman pangan terutama jerami padi karena secepatnya akan dilakukan pengolahan tanah, b) limbah tanaman pangan bersifat kamba sehingga menyulitkan peternak untuk mengangkut dalam jumlah banyak untuk diberikan kepada ternak, dan umumnya lahan pertanian jauh dari pemukiman peternak sehingga membutuhkan biaya dalam pengangkutan, c) tidak tersedianya tempat penyimpanan limbah tanaman pangan, dan peternak tidak bersedia menyimpan/menumpuk limbah di sekitar rumah/kolong rumah karena takut akan bahaya kebakaran, d) peternak menganggap bahwa ketersediaan hijauan di lahan pekarangan, kebun, sawah masih mencukupi sebagai pakan ternak.

Di sentra-sentra penghasil padi, banyak jerami yang dibuang atau dibakar begitu saja setelah bulir-bulir padi dipanen. Padahal jerami tersebut setelah dikeringkan dan disimpan dengan baik digudang dapat dimanfaatkan untuk bahan pakan  ternak ruminansia andalan. Dengan memiliki persediaan jerami padi kering, peternak tak perlu lagi ngarit (mencari rumput) atau membeli hijauan segar untuk pakan sapi (Saswono & Arianto, 2006).

Selama ini hampir 50% jerami padi dibakar, abunya dikembalikan ke tanah sebagai kompos dan hanya 35% yang digunakan sebagai pakan ternak. Sistem integrasi ternak dengan tanaman pangan tidak hanya meningkatkan nilai tambah limbah pertanian yang dihasilkan, tetapi juga meningkatkan jumlah dan kualitas pupuk organik yang berasal dari ternak sehingga mampu memperbaiki kesuburan lahan (Maryono, 2010).

Tabel 2. Kandungan nutrisi pakan asal limbah pertanian
No
Bahan Pakan
BK
(%)

PK
(%)

LK
(%)

SK
(%)

TDN
(%)

1
Jerami padi
31,87
5,21
1,17
26,78
51,49
2
Kulit kedelai
90,37
18,96
1,25
22,83
62,72
3
Klobot jagung
42,56
3,40
2,55
23,32
66,41
4
Tongkol jagung
76,61
5,62
1,57
25,54
53,07
5
Jerami kacang tanah
29,08
11,31
3,32
16,62
64,51
6
Jerami kedelai
30,39
14,10
3,54
20,97
61,59
7
Jerami kacang hijau
21,93
15,32
3,59
26,90
55,52
8
Jerami kacang panjang
28,39
6,94
3,33
33,49
55,28
9
Jerami komak
16,20
24,71
3,85
21,03
68,29
10
Jerami kc.tunggak/antap
15,52
16,06
3,93
38,08
48,31
11
Jerami jagung segar
21,69
9,66
2,21
26,30
60,24
Sumber : (Hardiyanto, R 2004) dalam Agustini (2010)
Pada tabel 2 dapat dilihat bahwa limbah pertanian memiliki kandungan serat kasar yang tinggi namun terdapat melimpah dialam sehingga perlu adanya pemanfaatan yang lebih lanjut dengan sentuhan teknologi menurut (Saswono & Arianto, 2006) bahwa hampir semua limbah pertanian tanaman pangan dapat dimanfaatkan untuk bahan pakan sapi. Walaupun hampir semua limbah pertanian itu mengandung serat kasar tinggi, tetapi dengan sentuhan teknologi sederhana limbah itu dapat diubah menjadi pakan bergizi dan sumber energi bagi ternak.

read more...

Berkenalan Dengan Ternak Sapi Potong

Tinjauan Umum Sapi Potong
 
Ternak sapi potong Indonesia memiliki arti yang sangat strategis, terutama dikaitkan dengan fungsinya sebagai penghasil daging, tenaga kerja, penghasil pupuk kandang, tabungan, atau sumber rekreasi. Arti yang lebih  utamanya adalah sebagai komoditas sumber pangan hewani yang bertujuan untuk mensejahterakan manusia, memenuhi kebutuhan selera konsumen dalam rangka meningkatkan kualitas hidup, dan mencerdaskan masyarakat (Santosa & Yogaswara, 2006)
 
Sapi potong merupakan salah satu ternak penghasil daging di Indonesia. Namun, produksi daging sapi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan karena populasi dan tingkat produktivitas ternak rendah (Isbandi 2004; Rosida 2006; Direktorat Jenderal Peternakan 2007; Syadzali 2007; Nurfitri 2008; Santi 2008). Rendahnya populasi sapi potong antara lain disebabkan sebagian besar ternak dipelihara oleh peternak berskala kecil dengan lahan dan modal terbatas (Kariyasa 2005; Mersyah 2005; Suwandi 2005).
 
Sapi potong merupakan salah satu komponen usaha yang cukup berperan dalam agribibisnis pedesaan, utamanya dalam sistem integrasi dengan subsektor pertanian lainnya, sebagai rantai biologis dan ekonomis sistem usahatani . Terkait dengan penyediaan pupuk, maka sapi dapat berfungsi sebagai "pabrik kompos" . Seekor sapi dapat menghasilkan kotoran sebanyak 8-10 kg/hari ; yang apabila diproses akan menjadi 4-5 kg pupuk organik (Haryanto et al. 1999) dalam Maryono (2010). Pengembangan sapi potong perlu mendapat perhatian serius mengingat permintaan daging belum dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri. Salah satu kendala dalam usaha ternak sapi potong adalah produktivitas ternak rendah karenapakan yang diberikan berkualitas rendah. Di sisi lain, potensi bahan baku pakan lokal seperti limbah pertanian dan perkebunan belum dimanfaatkan secara optimal, dan sebagian besar digunakan sebagai bahan bakar, pupuk organik atau bahan baku industri. Upaya untuk mengoptimalkan pemanfaatan limbah pertanian dan perkebunan sebagai pakan ternak dapat dilakukan dengan meningkatkan kualitas nutrisinya melalui fermentasi, suplementasi, dan pembuatan pakan lengkap. Diversifikasi pemanfaatan produk samping atau limbah agroindustri serta limbah pertanian dan perkebunan menjadi pakan telah mendorong berkembangnya agribisnis sapi potong secara integratif dalam suatu sistem produksi yang terpadu dengan pola ulang biomassa yang ramah lingkungan atau dikenal zero waste production system (Wahyono dan Hardianto 2004).
read more...

Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya produksi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya produksi.Menurut supriyono ada tiga faktor yang mempengaruhi biaya produksi yaitu antara lain:
1)    Pengaruh manajemen terhadap biaya.
2)    Karakteristik biaya dihubungkan dengan keluaran.
3)    Pengaruh perubahan volume kegiatan terhadap biaya.
Cara penentuan biaya pembuatan produk : 
1.    Biaya historis : yaitu penentuan biaya produk dengan mengumpulkan semua biaya yang telah terjadi dan diperhitungkan setelah operasi pembuatan produk selesai.
2.    Biaya sebelum pembuatan : suatu cara penentuan biaya pembuatan produk sebelum produk tersebut dibuat.
 
Biaya ini terbagi atas : 
a.    Biaya anggaran : berdasarkan kegiatan masa lalu dan perkiraan kegiatan pada masa yang direncanakan.
b.    Biaya standar : berdasarkan standar-standar pelaksanaan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Harga pokok standar : harga pokok yang telah ditentukan sebelum proses produksi dilaksanakan.
 
Tujuannya adalah : 
1.    Pengendalian biaya dan jika memungkinkan menguranginya.
2.    Pengukuran efesiensi
3.    Penyederhanaan prosedur pembiayaan
4.    Penilaian persediaan
5.    Penentuan harga jul.
 
Cara penentuan biaya standar : 
1.    Berdasarkan rata-rata biaya yang terjadi pada masa lalu
2.    Berdasarkan biaya terendah yang terjadi pada masa lalu
3.    Berdasarkan biaya yang berasal dari anggaran pada suatu kondisi operasi yang normal
4.    Berdasarkan biaya ideal yang terjadi pada efesiensi maksimum
5.    Berdasarkan biaya yang dapat dicapai pada kondisi operasi yang baik. 
read more...